Langsung ke konten utama

Siapa Bilang Mahar Itu Harus Murah?

Siapa Bilang Mahar Itu Harus Murah?


Assalamu`alaikum wr wb

Ketika berbicara dengan mahar, pembicaraan ini biasanya paling sering bikin kuping meradang. Gimana nggak? Begitu pihak pria mendengar mahar yang ditawarkan oleh pihak perempuan di luar jangkauannya maka muka pun akan seperti buah mangga masak. Begitu juga yang terjadi ketika si pihak perempuan ingin mengucapkan berapa maharnya. Dia jadi ragu. Salah-salah  dia tidak jadi nikah. Alamak! Betapa sulitnya sebuah kehalalan jika memang harus demikian, bukan?

Emang bener ada hadist yang sering kali dijadikan alibi oleh pihak pria untuk memudahkan jalannya menikah dengan pilihannya. (harap digaris bawahi ya? Pilihan!) Tak jarang, akhirnya pihak perempuannya malu sendiri. Padahal, itu adalah sebuah keputusan dari pihak pria sendiri. Toh pilihan itu bukan berada pada tangan wanita melainkan pria. Artinya adalah, ketika si pria sudah memilih wanita A, maka seharusnya dan sudah selayaknya dia menerima semua konsekuensi dari pilihannya. Tapi, sepertinya pria saat ini terkesan tidak gentle. Bagaimana mau dikatakan gentle? Menerima konsekuensi dari pilihannya saja tidak bisa. Bagaimana bila sudah berkeluarga nanti? Jadi pemimpin kelak?

Jaman Rasulullah nikah itu mudah bro! Mungkin ini lagi-lagi menjadi sebuah perbandingan. Sepertinya kita mencoba menutup mata terhadap keadaan. Ketika kita merasa sulit, maka kita menghubungkannya dengan masa-masa Rasulullah. Tapi ketika kita merasa mudah, maka contoh dari masa Rasulullah begitu jauh. Ah, begitu naifnya. Suka tidak suka dalam membaca tulisan ini, saya serahkan kepada pembaca sendiri. Karena realita begitu jelas terlihat di keseharian kita. Silahkan saja pungkiri.

Baca Juga : Melamar Gadis Aceh butuh 100 Juta Rupiah


Ada sebuah ungkapan menarik, (saya tidak bisa memastikan ini hadist atau bukan) Wanita sholehah adalah yang paling sederhana dalam meminta mahar, sedangkan lelaki yang baik adalah yang paling tinggi dalam memberikan mahar. Saya setuju dengan ungkapan ini. Dan begitupun dengan hadist yang hampir senada. Sesungguhnya wanita yang paling mulia adalah yang paling mudah maharnya.

Jika diijinkan saya ingin membahasnya sedikit lebih panjang boleh? Boleh aja lah ya? Ya ya ya ??

Lihat yang saya bold, paling mudah disitu bila kita lihat lebih jeli terkesan sebuah diksi yang relative. Dalam artian adalah, itu tergantung situasi dan kondisi. Sekarang coba jika yang melamar itu adalah anaknya pengusaha hebat. Sekaliber Rasulullah yang melamar Siti Khadijah. Apa maharnya? 100 ekor unta. Mau itung-itungan? Jika satu ekor unta adalah 10 juta, berapa jika dikali seratus? Baiklah bila ada yang berkilah jika masa itu Rasulullah belum menjadi rasul, lalu apakah perbuatannya tidak juga boleh ditiru?

Jadi pertanyaan sekarang, jika Rasulullah merasa keberatan dengan mahar yang begitu “mahal” kenapa beliau begitu mencintai Ummu mukminin tersebut? Logika yang sehat akan tergelitik. Ketika mengatakan bahwa Rasulullahmenyarankan untuk memurahkan mahar. Sungguh, ini begitu berbahaya. Selain akan memudahkan seorang pria bermain-main dalam dunia pernikahan, maka si wanita pun tidak ada harganya. Sekali lagi, yang memilih dan mengambil keputusan ingin menikahi siapa itu, adalah Pria! Jadi silahkan buka akal dan hati lebar-lebar.

Inga..inga..inga…ting! wanita sholehah itu adalah sebaik-baiknya perhiasan. Mana ada perhiasan yang tidak mahal? Tenang dulu, pembahasan belum habis he he he…jangan ngamuk dulu. Turunkan dulu parangmu…lipatkan kakimu..dan cuci tanganmu..lalu mari kita bahas lagi pelan-pelan..

Sebuah perhiasan itu selalu tergantung siapa yang membeli dan siapa yang sanggup membeli dengan harga yang ditawarkan. Tidak jarang kita dengar bila yang membelinya adalah orang kaya, dia akan mengatakan bahwa “saya beli berlian ini murah lho! Cuma 50 juta”. Tapi bagi mereka yang penghasilan sebulannya ngepas buat ngediamin cacing dalam perut? Apakah itu murah? Apakah itu sebuah perihal mudah dalam mengeluarkan uang 50 juta. Lalu dengan mudahnya mengatakan”Cuma”? saya rasa tidak demikian bukan? Begitupun dengan diksi dari hadist tersebut.

Mudah di sini, sering diartikan sebelah pihak. Seringnya pihak perempuan yang selalu disudutkan. Padahal mudah di sini, adalah kemudahan bagi kedua belah pihak. Mudah bagi pihak pria dalam memberikan maharnya, (kalau dia mudahnya ngasih satu buah rumah beserta isinya gimana?? ) dan mudah bagi pihak wanita dalam menerimanya. Bukankan sebuah pernikahan itu adalah sebuah keputusan dari kedua belah pihak? Bukan sebelah pihak saja. Jika ada pihak yang keberatan, justru itulah yang menjadi sebuah masalah nantinya. Ada prinsip adil dalam membangun sebuah pernikahan, ada prinsip keterbukaan dalam sebuah pernikahan. Lalu, jika memang demikian, mengapa tidak memberikan juga keadilan kepada pihak lainnya?

Sering juga kita mendengar bahwa putri Rasulullah menikah dengan mahar hanya sebuah baju perang. Hadist ini lagi-lagi sering disalah persepsikan. Menjadikannya sebagai sebuah pembenaran bahwa mahar itu harus benar-benar murah dalam ukuran materi. ( padahal dalam al quran, mahar itu sepenuhnya hak pihak wanita ya?) Jika saya tidak salah menelaah, tidak semua sahabat Rasulullah memiliki baju jirah ketika mereka ikut berperang. Dan, bila mereka menang dalam perperangan tersebut, maka baju jirah adalah barang jarahan favorite para peserta perang. Artinya apa? Baju jirah itu bukan barang murah. Ali ra memang hanya memiliki baju perang, karena beliau lebih mencintai mati syahid dalam berperang. Maka dari itu beliau selalu ikut dalam setiap peperangan yang dipimpin oleh rasulullah. Baju Jirah adalah harta yang sangat berharga bagi Ali (dalam hal materi lho ya?? Karena Ali mempunyai harta yang jauh lebih mahal yaitu Iman dan Puteri kesayangan rasulullah). Lagi-lagi, jika kita mau merenung, murah dalam materi bukanlah sebuah keharusan dan kewajiban. Terkadang terkesan mendhalimi pihak perempuan.

Dari Aisyah, "Nikahilah olehmu kaum wanita itu, maka sesungguhnya mereka akan mendatangkan harta (rezeki) bagi kamu¨ (HR. Hakim dan Abu Dawud). Lihatlah bagaimana hadist demi hadist mengatakan bahwa tidak perlu ketakutan bila menikah mengeluarkan begitu banyak dana. Allah itu maha kaya. Dan Allah pasti menjamin semua ucapan rasulNya

Berikanlah mahar (mas kawin) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan." (Qs. An Nisaa (4) : 4). Apakah tidak malu, ketika kita membaca ayat ini? Secara halus sekali Allah mengingatkan, kalau kagak ikhlas kagak usah ngasih. Cari aja yang lain, yang bikin hati elu ikhlas ngasih maharnya :D

Nabi SAW pernah berjanji : "Jangan mempermahal nilai mahar. Sesungguhnya kalau lelaki itu mulia di dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali pernikahannya." (HR. Ashhabus Sunan). Dari Anas, dia berkata : " Abu Thalhah menikahi Ummu Sulaim dengan mahar berupa keIslamannya" (Ditakhrij dari An Nasa’i) dan saya yakin, bila ini adalah setiap impian semua wanita sholeha di muka bumi ini.

Pria takwa adalah impian wanita muslimah, dan wanita sholeha adalah impian pria muslim. Ada kerjasama dari kedua belah pihak. Ada sama-sama tuntutan yang ingin dicapai. Disinilah arti sebuah kesepakatan. Tidak boleh saling menyudutkan. Tidak boleh bilang “ah dia itu..dah suka ngomel-ngomel, mahal pula maharnya”. Sssttt….coba liat, ternyata ente sudah memaki dan membuka aib lho?? Dosanya jadi double kan?

Kesimpulannya adalah, boleh saja menentukan mahar sesuka hati. Tapi silahkan terima konsekuensinya. Begitu bagi yang ingin member mahar. Kalau mampunya satu karung beras, jangan paksakan diri sampai satu pabrik beras. Alamak mamphus ente..jujurlah pada diri sendiri. Karena sebagai pria yang baik, dituntut untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga. Juga demikian bila ingin menjadi seorang pemimpin yang baik. Seorang pemimpin yang baik adalah mereka yang berani dan siap dengan konsekuensi pilihannya. Tidak plin-plan. Karena orang yang nggak jelas itu adalah orang-orang yang tidak jujur dengan dirinya sendiri.

Akhirul kalam…saya ingat ucapan joke seorang Khatib jumat. “Emangnya antum itu mau beli kacang goreng? Mau nentuin harga mahar seenak perut antum? Begitu mahal antum bawa hadist, tapi begitu nikah kemana tuh hadist-hadist yang lain? Jangan dhalim terhadap keluarga dong!”

Wallahu`alam

Wassalamu`alaikum wr wb

Komentar

  1. aku tak mampu 100 jt kak, aku hanya punya wajah molek nan rupawan. Bisa yah, pleaseee

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menghujat Para Pelanggar Syariat di Aceh

Siapa yang tak tahu? Jika Aceh, bergelar Serambi Mekah? Siapa yang tak tahu, jika Aceh menggunakan perda khas. Atau, lebih dikenal dengan qanun. Siapa yang tak ribut, ketika gema hukum cambuk-saya lebih suka menyebutnya dengan pecut-bergemuruh? Ketika setiap pelanggar syariat, mulai di pecut. Di pertontonkan, di unggah di berbagai lini media sosial.

Ikhwan Dan Akhwat Yang Menyebalkan!

foto by http://www.alamiry.net/  Assalamu`alaikum wr wb Kita, yang begitu banyak menuntut, terkadang sering lupa bahwa tatkala menuntut banyak hal, ada kewajiban yang harus dipenuhi terlebih dahulu. Tidak masalah menuntut apapun, asalkan kewajiban terpenuhi. Tapi mau bagaimana lagi? Kekurangan pada diri manusia selalu saja menjadi masalah. Padahal, Allah menciptakan manusia memang dengan penuh kekurangan. Untuk apa? Mungkin, bagi yang terbiasa dengan teori TOWS matriks akan bisa mengerti. Apa gunanya weakness dalam matriks tersebut. Bilang saja, egois. Egois itu bila berlebihan memang kurang baik. Tapi tahukah kita bahwa egois itu dituntut ketika kita berlomba-lomba dalam berbuat kebaikan. Pemarah, rasullullah memang mengatakan jangan marah, bagimu surga. Itu bila tidak pada tempatnya. Itu, bila berlebihan. Akan tetapi, apakah kita tidak boleh marah tatkala melihat seorang wanita muslimah di kebiri auratnya? Seperti Yahudi khaibar yang mempermalukan seorang musli...

Mereka Yang Tak Sempurna

Esok hari, bila tak ada hambatan. Saya dan keluarga akan ngetrip  lagi ke kabupaten Singkil. Kali ini kami sekeluarga harus menghadiri perhelatan pernikahan sepupu. Mau tidak mau, suka tidak suka, penampilan harus yang terbaik kan?   Maka pangkas adalah salah satunya. "Apa2an ini?! Kenapa begini rambut saya? Apa kamu tidak bisa pangaks rambut ya?!" seorang pria yang saya nilai dari ubannya yang merata, umurnya pasti tak muda lagi. Ziyad, anak tertua saya sampai bingung dan takut. Bagaimana tidak, baru saja kami masuk ke tempat pangkas tersebut. Keadaan yang memang sedang panas karena terik mentari semakin panas karena teriakan sang bapak. "Ganti aja yang pangkasnya!" pintanya lagi. Si abang yang memangkas bapak tersebut bingung. Terdiam dia mematung. Dengan gunting dan sisir ditangannya.