Langsung ke konten utama

Butuh 10 Tahun untuk mengerti sebuah doa


Tiada yang mengetahui bagaimana cara Allah mengabulkan doa hamba-hambaNYA. Ada yang langsung di perlihatkan dengan jelas. Tumplek blek langsung di depan mata. Misalnya, ketika memohon agar lulus sekolah ke Luar negeri. taraaaaaaaaa…kita lulus. Alhamdulillah. Tapi ada juga yang memohon agar segera bisa menikah dengan pasangan terbaik menurut Allah maka, tak jarang yang dihadapi atau dijalani adalah rasa sakit hati yang berkepanjangan. Sampai-sampai ada yang menjadi phobia dekat-dekat kata menikah. Bahkan sampai ada yang terganggu psikologisnya karena doa tak kunjung di kabulkan. Tapi benarkah demikian? Wallahu a`lam


Saya hanya belajar dari kasus saya sendiri. Dari umur 19 tahun saya selalu memohon agar segera bisa menikah dengan pasangan yang terbaik menurut AllahPunya kerjaan sederhana, rumah sederhana, dan anak yang dapat membuat saya tersenyum ketika lelah begitu tinggi. Ini hanya sebagian dari doa saya dahulu. Dulu sekali, ketika masih berumur 19 tahun. Dulu, belum mengenal bagaimana kehidupan di Jakarta. Tidak pula terbayangkan bahwa saya akhirnya akan sekolah di kota besar. Lengkap dan komplit dengan lika liku cerita yang selayaknya sebuah sinetron (nepuk jidat!).


Sekarang, di hari yang senja ini, saya mencoba merenungi keadaan yang kini saya jalani hampir dua tahun belakangan. Sembari sesekali mengayun anak agam yang lelap dalam ayunan. Saya teringat mengenai percakapan sepintas saya dengan seorang dosen di Jakarta. Sang dosen ketika itu menanyakan apa posisi yang paling saya inginkan. Saya menjawabnya, bahwa saya sangat menginginkan posisi yang biasa-biasa saja. paling tinggi adalah manager. Karena saya tidak ingin membuat anak dan keluarga saya besar dengan duit. Bukan dengan arahan serta kasih sayang seorang ayah juga suami.  Kini, saya menghadapi hal tersebut. Ketika awal diterima kerja, posisi saya, hanya dua tingkat dari Manager. Tapi Allah mengabulkan doa saya, yang saya sendiri sudah lupa kalau saya pernah mengucapnya. Saya harus jatuh ke posisi outsource. Artinya, jarak saya menjadi seorang manager makin jauh.

Itu baru satu hal. Dimana Allah mengabulkan doa hambaNya, pada waktu yang tepat! Sekaligus menguji kesabaran hambaNya. Apakah dia konsisten atau tidak. Kalau saya pribadi? Saya harus mengakui kalau saya gagal dengan ujian ini. Saya sendiri yang meminta, saya sendiri yang meng-komplain-nya. Ah, saya ini kan manusia? ( boleh gitu?? )

Pada waktu yang lain, ketika saya duduk bersama beberapa teman saya yang berprofesi sebagai arsitektur, iseng-iseng mereka bertanya kepadaku. Rumah seperti apa yang aku inginkan kelak ketika aku sudah tamat kuliah, sudah punya kerjaan, dan sudah berkeluarga. Lagi-lagi aku menjawab dengan mudahnya, bahwa rumah yang aku inginkan adalah rumah kayu layaknya rumah panggung Aceh. Alasanku memilih rumah tersebut adalah karena aku ingin sekali tetangga disekitarku tidak gengsi bila datang kerumahku. Tidak minder ketika mereka harus meminta tolong kepadaku. Aku tidak ingin punya rumah yang pagarnya beton betulang setinggi 2 meteran, aku hanya ingin sebuah rumah sederhana yang orang lain tidak punya niat untuk mengata-ngatai bahwa rumput dirumahku lebih hijau.

Lagi-lagi, itu terjadi ketika saya masih duduk dibangku kuliah, Unsyiah, Banda Aceh. Dan hari ini, ketika saya diberikan kemampuan untu menyewa rumah di sebuah daerah di Aceh, ternyata lagi-lagi saya dihadapkan dengan omongan saya sendiri. Saya terpaksa harus mau tinggal di rumah panggung Aceh. Yang siang hari akan panas, dan begitu malam semakin larut, suhu udara rumahnya akan sangat dingin. Nyamuk yang bermain-main keluar masuk dari selah-selah papan yang renggang. Yang ketika hujan turun dengan deras, maka dari jendelanya akan masuk air. Begitulah, rumah impian saya dari kuliah dulu dan kini Allah mengabulkannya kepadaku. Jadi pertanyaan kini, bersyukurkah aku terhadap apa yang telah diberikanNYA?

Kini, usiaku mendekati 30 tahun. Butuh 7 tahun untuk saya bisa mengetahui bahwa doa saya  perihal dimudahkan menikah ternyata di dengar Allah. Butuh waktu 8 tahun untuk mengetahui bahwa doa saya perihal pekerjaan yang biasa-biasa, yang mana dipekerjaan saya, saya bisa menghabiskan banyak waktu dengan anak dan istri, dikabulkan oleh Allah. Dan butuh waktu hampir 9 tahun untuk mengerti mengapa saya akhirnya betah dengan rumah panggung Aceh tua ini.

Akhirnya, saya masih bertanya-tanya, akankah doa saya mengenai dimudahkan jalan saya untuk menjadi seorang Gubernur Aceh dikabulkan Allah kelak? Wallahu a`lam. Tiada seorangpun yang tahu. Termasuk saya sendiri. Yang saya ketahui, hanyalah saya ini wajib berusaha untuk mewujudkannya, sekaligus wajib menyerahkan segala sesuatunya kepada Allah semata.

Begitulah sekelumit doa yang dikabulkan oleh Allah. Adakah mungkin diantara kita yang bermunajat tapi belum dikabulkan Allah? Atau jangan-jangan, sebenarnya doa tersebut sudah dikabulkan olehNya, tapi kita saja yang belum menyadarinya.

Benarlah alquran yang menyatakan bahwa memohonlah hanya kepada Allah semata, niscaya akan dikabulkan. Lalu, bagaimana dengan doa kita hari ini?

Wassalamu`alaikum wr wb



Yudi Rnd 22052012

Komentar

  1. Jadi kemakan omongan sendiri yaaaa :-)
    Tapi terus bersyukur itu penting yaaa kak

    BalasHapus
    Balasan
    1. om... kok bisa nyangkut di blog ini???
      #speechless

      Hapus
    2. Aku orang nya suka iseng, melipir kanan kiri dan nyangkut tersesat dech hahaha

      Hapus
    3. Om, terima kasih banyak ya Om..:)
      trully, and honestly thx u so much Bang Toro

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Siapa bilang jadi Blogger itu Enak?

Siapa Bilang Ngeblog itu Gampang? “Wah..abang enak blogger.. kemana-mana bisa pergi kapanpun.” “abang enak, blogger, bisa kerja suka hati” Intinya tuh, enak, enak, dan enak. Begitulah persepsi orang ketika saya mengenalkan diri sebagai salah satu dari ribuan blogger keren di Aceh. Sebenarnya, apa yang terlihat enak tidaklah se-enak yang dibayangkan. Dunia ngeblog ini sudah saya tinggalkan bersamaan dengan padamnya Multiply. Iya, saya termasuk blogger yang susah move on dari satu blog ke blog lainnya. Tapi beda ketika menyangkut move on perihal hati #krik..krik..krik.. Awal tahun ini, saya kembali mencoba menyalurkan hobi menulis yang “nggak banget”. Kenapa saya katakan demikian? Karena saya ini tidak pernah bisa mengerti perihal EYD. Saya sebenarnya punya dilemma ketika menempatkan awalan “di”. Mana yang disambung, mana yang dipisah, saya bingung. Percayalah, saya tidak bohong kali ini. Karena ini menyangkut harkat dan martabat saya. #halah…

Ketika Aku Harus Menikah (Lagi)

adat kasih cincin kepada mempelai wanita Berbilang tahun sudah, pernikahan yang syahdu ini berjalan layaknya sebuah biduk yang mengarungi perairan Banda . Naik turun, goyang-goyang, dan tak jarang ditemani oleh lumba-lumba yang menari. Anak sudah dua. Sepasang pula. Dari yang ganteng sampai yang cantik. Lengkap sudah. Seawal perkenalan dulu, tak ada ungkapan cinta nan romantis yang berkelebat dari surat-surat kertas yang bau harum. Tak ada. Hanya ungkapan sederhana, m aukah engkau menjadi kekasihku kelak?  dan berapa maharnya? (teteup..) Singkat cerita, dia mengajukan sebuah pertanyaan klasik. “Bagaimana menurut abang poligami itu? Ada niat kah?”

Ustad, Pesan Yang Cantik Satu!

ilustrasi dari  rantsofamuslima.blogspot.co.id Ini hanya fiktif belaka. Di angkat dari joke keseharian mereka yang berkecimpung dalam dakwah. (padahal semua manusia tugas wajibnya adalah dakwah kan? Kenapa pula harus aku tuliskan “berkecimpung” ya? Duh, jadi pusing sendiri nih menjelaskannya) Suatu ketika di pelataran mesjid. Seorang pemuda yang berumur cukup duduk dengan serius bersama ustadnya. Percakapan yang dibicarakan juga perihal yang serius. Seserius duduknya mereka berdua. Mereka membicarakan perihal masa depan. Kehidupan masa depan. Cita-cita masa depan. Keindahan sampai dengan masa depan. Ah, apa pula itu?!